Cari

Daruz Armedian

sejauh apa pun aku melanglang, ketiadaanlah tempatku berpulang

Pembunuh Sri Wulan (Pikiran Rakyat, Minggu 7 Agustus 2016)

 alone-wallpaper
sumber gambar: kampungfiksi.com

Selalu saja ada yang bertanya siapa pembunuh Sri Wulan, kakak Brandal Lokajaya atau nama lain dari Raden Sahid itu. Sehari sebelum mati memang ia sudah menyiapkan kain kafannya sendiri. Tetapi di tubuhnya tak ada tanda-tanda bunuh diri. Setelah diperiksa, diperutnya mengendap racun sianida. Dan tentu saja, tidak mungkin ada orang pelosok Dusun Soko yang menjual racun itu sehingga mustahil Sri Wulan membeli lantas meminumnya bersama kopi. Pasti ada yang telah membunuhnya. Entah siapa.

Continue reading “Pembunuh Sri Wulan (Pikiran Rakyat, Minggu 7 Agustus 2016)”

Puisi-Puisi Daruz Armedian di Media Indonesia (Minggu, 30 April 2017)

 lagi-ngetrend-melamar-di-bawah-hujan

Alfita

di sore ini, sebelum sama-sama kita beranjak
hujan lebih dulu menjejak
ada dingin sebentar pada dada yang debar
Continue reading “Puisi-Puisi Daruz Armedian di Media Indonesia (Minggu, 30 April 2017)”

Cerpen: Pada Selingkar Cincin Kuning (Pemenang 2 Lomba Cerpen dalam Rangka Milad 280 PP Sidogiri, 2017)

086595600_1416791333-cincin_3

Dan sungguh, kau harus tahu, pada suatu waktu yang hujan itu, ada seorang lelaki kurus melongok ke lubang jumbleng yang penuh kotoran dengan tanpa mengucap kekesalan apa pun. Artinya, dalam mulutnya tak ada keluh atau aduh. Jangankan dari mulutnya, dari hatinya pun tidak.

Ya, mungkin para malaikat telah menutup hidungnya dari bau busuk kotoran. Atau kalau tidak begitu, pasti mereka telah melindungi hatinya dari segala yang bernama kebencian.

Siapa lelaki itu? Tanyamu ketika kisahku baru seujung kuku. Kisahku ini baru dimulai, sohibku. Continue reading “Cerpen: Pada Selingkar Cincin Kuning (Pemenang 2 Lomba Cerpen dalam Rangka Milad 280 PP Sidogiri, 2017)”

Micin dan Hal-Hal yang Belum Selesai dari KF20*

DSC_0044

Mungkin, seperti dalam catatan Erich Fromm, The Art of Loving, aku telah terjebak dalam kategori cinta yang bersifat kekeluargaan. Ya, awalnya aku mengira bahwa kekeluargaan tidak bisa dibangun hanya dalam masa 3 hari (tanggal 24-26). Tetapi di kampus fiksi, hal itu bisa terjadi. Aku merasa sudah menjadi bagian dari keluarga mereka, keluarga yang hidup bersama di atap kampus fiksi. Bagaimanapun, ketika waktu perpisahan tiba, aku merasa tidak terima kepada waktu yang berjalan lebih cepat dari biasanya. Di kepalaku bermunculan berbagai kejanggalan, yang kalau kuringkas akan menjadi seperti ini:  padahal, perasaan, kita di gedung ini baru tadi deh. Kok udah mau perpisahan? Rasanya kurang sreg gitu. Masak cuma segitu?

Atau, kalau tidak kuringkas, akan menjadi seperti ini: Continue reading “Micin dan Hal-Hal yang Belum Selesai dari KF20*”

Puisi Daruz Armedian (Pemenang Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016)

jagung

Sumber gambar: http://www.artisoo.com/id/kansas-ladang-jagung-p-107370.html

Riwayat Jagung

  • Krakal

 

huyooo’

sapi-sapiku mengerti pagi

paham hujan yang menghunjam ladang

kutuntun mereka beruntun

menginjak semak-semak merimbun

maka tatal krakal bakal mengoyak tanah

yang telah gembur oleh hujan dan lamur

kiokot dan kremah semoga hancur

sehancur batu dendam

kena tikaman palu perdamaian

Continue reading “Puisi Daruz Armedian (Pemenang Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2016)”

Puisi-Puisi Daruz Armedian (Koran Merapi, 20 Januari 2017)

rfndxzaynzjfmc5kuec

Menyulut Api

terbakar aku, oleh api rindu, yang kusulut sendiri
aku tak pernah takut
bertahun-tahun menatap maut
seperti ingin kupeluk
seperti ingin kupagut
Continue reading “Puisi-Puisi Daruz Armedian (Koran Merapi, 20 Januari 2017)”

Bendera di Beranda

rivai-hidayat_voluntourism-desa-promasan-6

            Di rumah tua itu, selalu saja ada seorang nenek yang mengeluarkan air mata. Merembes di pipi dan sesekali jatuh ke tanah hingga basah. Dari gurat-gurat wajahnya, sangat bisa dibaca, ia tengah merindukan seseorang. Dan bendera yang tergantung di beranda, adalah benda terakhir yang ia daku sebagai hadiah dari masa lalu. Hadiah untuk mengenang seseorang yang telah lama pergi. Seseorang yang benar-benar ia cintai. Continue reading “Bendera di Beranda”

Cerpen: Tamu dari Surga (Joglosemar, 29 Januari 2017 dan Minggu Pagi, 19 Februari 2017)

malaikat

Malam itu ada yang mengetuk pintu rumahku. Tak ada suara lain yang mengiringi ketukan itu. Padahal yang kuharapkan adalah ucapan salam atau sebagainya, sebagai bentuk kalau ia benar-benar manusia. Sudah sering aku membuka pintu karena ketukan, tetapi yang kutemui hanyalah kekosongan. Kadang-kadang memang bukan kekosongan, tapi berupa asap mengepul atau cuma jejak kaki. Hal itu bisa terjadi karena rumahku di tempat yang amat terpencil. Di kanan dan kirinya terdapat kuburan. Dan, karena aku hidup sendirian. Continue reading “Cerpen: Tamu dari Surga (Joglosemar, 29 Januari 2017 dan Minggu Pagi, 19 Februari 2017)”

Cerpen: Lelaki Pemetik Anggur (Suara Merdeka, 11 Desember 2016)

ilustrasi-cerpen-koran-suara-merdeka-minggu-11-desember-2016

Apa yang membuat lelaki itu selalu memetik anggur yang pohonnya menjalar hampir memenuhi beranda rumahnya?

Pagi sekali, pagi ketika embun masih jatuh di daun-daun yang belum mengenal gaduh, lelaki itu akan keluar rumah. Dengan mata yang kucel, yang menunjukkan baru saja bangun dari tidurnya, ia sudah mengangkat tangan. Buah anggur itu menggantung tidak terlalu tinggi untuk ukuran tubuhnya. Tangan itu memilah-milah anggur mana hari ini yang akan dipetik untuk kemudian dimakan di tempat.

Continue reading “Cerpen: Lelaki Pemetik Anggur (Suara Merdeka, 11 Desember 2016)”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑